Explore your dignity

Just another Blogdetik.com weblog

Gue Banget…!

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Namo Budhaya, Shalom, Selamat siang, salam sejahtera, …

Pagi ini, berangkat kantor dengan kurang semangat.  Semalaman juga gak bisa tidur.  Berangkat kantor dengan naik kendaraan sendiri, “My Livi” panggilan sayang mobilku (Grand Livina 1.5xv, warna abu-abu monyet!, keluaran Juli 2010..).  Setelah seminggu dipinjam orang untuk belajar nyetir, dengan kado borat-baret disekujur tubuh, “my Livi” dikembalikan.  Parno(paranoid) sudah pasti ada, seharian bolak balik check  body mobil. Telepon ke bengkel-bengkel hasil surfing di internet.  “pak kalo baretnya panjang 50 centi-an dan dalamnya kira-kira ya 1/2 centi-an berapa ongkosnya ya?”…semua bengkel ditanya sama dan semua jawab sama, entah itu memang jawaban semua awak bengkel yang mungkin juga sekolah bengkelnya sama : “Bawa kesini aja pak, di check dulu baru bisa tau harganya”.  Tapi emang mereka bener kok, mestinya lihat dulu baru tahu harga, aku nya aja yang parno dan ber-imaginasi seakan-akan penggambaran kerusakan yang ada di otakku ya sama dengan mereka..hehehe..Paranoid ! : Gue banget!

Seminggu yang lalu, seorang tetangga lamaku datang malam-malam.  Bercerita ngalor-ngidul yang ujung-ujungnya memelas pinjeman duit.  Kali ini dia datang (biasanya tangan kosong) bawa sertifikat rumah.  “Boss, ane kesusahan banget nih.  Motor ane dah 3 bulan gak kebayar kreditnye.  Bisa bantuin kagak?..ini ane bawain sertifikat ane, asli dan luasnya ente lihat lah, gak sebanding dengan uang yg ane mau pinjem kan?”.  Emang sih dia pinjam hanya 1,5 juta, dengan menggadaikan setifikat tanah yang luasnya sekitar 400 meter-an.  Jelas gak sebanding sama pinjeman uangnya.  “Ane gak tau, kemana lagi ane harus minta tolong kecuali ke ente boss”, dia nyerocos sambil nyeruput kopi tubruk yang aku buatkan asal-asalan(maklum aku juga gak ngopi jadi pengetahuan kopi ya minim banget!).  Mata ku menerawang yang sebenarnya lagi mengkalkulasi berapa sisa uang di rekening, minimal kalo aku kasihkan dia masih bisa hidup setengah bulan lagi.  “Ok deh bang, gimana kalau keputusannye besok aje ye?. Ane coba check besok uangnye, kalo ade ente ane transfer deh. 1,5 juta kan?. Oh iye, ini sertifikatnye dibawa aje, gak perlu lah begini.” aku jawab dengan terus berpikir gimana dan dari mana dapat uang backup.  Karena kalau dikasih pasti berkurang dan kacau rencanaku untuk jalan keluar kota/SPD yang mesti klaim dulu bukan kasbon. Maklum debat sengit sama team budget masih belum ada titik temu(bahasa DPR dan pejabat nih).   Pagi-pagi sekali aku lari ke ATM dan ambil uang yang diperlukan tetanggaku. 1,5 juta cash!.  Aku SMS dia untuk tunggu depan rumahnya karena sekalian aku jalan kekantor.  Uang sudah diberikan, ada perasan lega yang aneh….entah apa.  Selalu DENSUS 86 Antitekor menyerang diujung bulan : Gue Banget!

 Itu hanya contoh 2 kasus yang sebenarnya masih banyak terjadi bahkan hari-hari peminjamannyanya pun beti alias beda-beda tipis.  Bukan sok kebanyakan uang, cuma sepertinya mereka itu tahu aja kapan aku punya uang dan kapan aku gak gablek duit alias tekor.  Kadang harus kencangkan ikat pinggang menjelang gajian (maklum masih kerja sama orang, belum owner hehehe).  Yang herannya, selalu pas untuk sebulan gaji sebulan itu.  Seharusnya, kalau ikutin bugdet(padahal ini udah dibuat sebagus dan sematang mungkin di Excell 2007, windows 7 di laptop baru hasil pemberian kantor/L412 Thinkpad Lenovo hehehe), teteup aja tekor.  Rasa gak tega dengan rasa bodoh selalu perang diatas awang-awang perasaan ku sendiri.  Makanya, diawal bulan, selalu di ATM agak lama sampai digedor dan dicemberutin ibu-ibu hamil yang bete ngeliat aku didalam.  “Emang itu kotak musik mas, ngomong sendiri, ngomel sendiri, jingkrak sendiri!.  Bikin aja ATM dirumah sendiri biar bisa lama-lama mas”.  Itu lah caci maki selalu yang aku terima diawal bulan.  Padahal didalam aku sedang lihat catatan mana yang wajib dibayar, mana yang ditransfer, mana yang disingkirkan untuk belanja-belanji, bayar listrik, bayar TV kabel, bayar internet, bayar bayar bayarrr..banyakan bayarnya dari pada item terima nya…hehehe…derita pegawai tiap bulan : Gue Banget!

Tiba hari pembalasan, eh maaf hari penagihan pada penghutang, peminjam dan pemaksa pinjam, pemelas pinjam, yang dikala datang dengan acting yang luar biasa.  Menaklukan hati sang pejantan tangguh ini (Jiahhhhh…!).       Langkah awal : SMS. “Apa kabar bro?..sehat?…gimana keadaan loe?..btw udh ada kan uangnya buat gw, gw perlu banget nih bro.TQ ya”. SMS yang sama dikirim kebanyak nomor.  zzztttt…zzzzztttt….HP ku bergetar (maklum dah malas pakai ringtone yang aneh2 dan yang biasa juga bosan). SMS pertama hadir : “Duh maaf bang, gw lagi diluar kota. Ntar deh gw kabarin ya. Maaf banget nih”.  SMS kedua hadir : “Sehat bro, tapi kantong gw gak sehat nih. Ntar g w ke-kost an elo deh ya. Gw mau cerita tentang mertoku gw.”. SMS ketiga masuk : “Kemarin sih ada bang, tapi kepake anak gw bayaran, ntar gw bilang abang gw deh mudah2 an gw dapat pinjaman lunak buat bayar ente”.  Itu tiga sampel, yang sebenarnya temanya sama, Ga Gablek duit, pembayaran di tunda sampai waktu tak terbatas…!. Hiksss….Giliran gw yang memelas, cuma bisa merenung : Tuhan baik banget ya, ngasih kesempatan gw jadi bank pinjam tapi tak simpan.  Mudah2 an lancar rejeki gw walau di beginiin. Hikss…. Ga bisa teges, padahal kerjaku sekarang ini adalah memelihara hampir 1500 debt collector external dan 200 lebih an debt collector internal…Gue Banget sihhh!!

Semoga Tulisan kali ini agak sedikit “berjiwa” karena “roh” pengalaman hidup yg sepenggal mampu menggerakannya.

Tuhan maha memberi, maha mencerahkan, maha me-mudhil kan.  Selalu memberiku pelajaran hidup tanpa merasa kekurangan sangat.  Disaat orang kesusahan, aku yang kotor dan tercela, masih diberi kesempatan jadi “selang” penyambung hidup orang walau selang arus baliknya sering tersendat…hehehehe…Maha besar Allah dengan segala firmanNya

Engkau Sedang tidak bercanda kan Tuhan ???????………

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Namo Budhaya, Shalom, Selamat siang, salam sejahtera, …

Uraian panjang rasanya tidaklah cukup untuk menceritakan isi kepala ini, yang ada malah membosankan nantinya.  Kasak-kusuk dikantor, di warung, di Kereta, di perjalanan bahkan di ranjang, semua sama.  Menceritakan carut marut kehidupan di negeri ini.  Tapi rasanya kalau hanya bicara tidaklah cukup, bahkan kalau diam kurasa malah lebih membantu.  Saat ini kita tidak perlu banyak bicara, tidak perlu mencaci, tidak perlu saling salahkan juga tidak perlu pusing seperti gasing.  Cukup bertanya pada Nurani masing-masing, cukup diam, cukup hening, cukup cukup cukup.kok ya gak cukup cukup cerita ini??….Pokoknya begitu lah. 

Melihat keonaran, kerusuhan, ke “chaos” an, yang tidak hanya terjadi di Mesir, Tunisia, Yaman, bahkan Jordania dan Arab saudi yang sudah ketar-ketir takut diterpa “badai” yang sama.  Demokrasi menjadi alasan, rujukan dan partner untuk menghancurkan hal yang tidak disukai lagi. Walau dulu juga pemimpin yang sama itu disanjung setinggi langit.  Entah intrik politik global dunia atau kekacauan lokal yang spontan dan sporadis atau lebih njelimet lagi “terekayasa”. Entahlah, saya tak mau tahu hal itu. Yang jelas, dunia punya mekanisme sendiri untuk menuntaskan setiap masalah yang ada dipermukaanya.  Tak kalah dahsyat yang terjadi di bumi pertiwi.  Kembali terluka rasa keadilan dan ketenangan sesama umat.  Terpinggirkannya nurani untuk bicara secara “normal”, terlukanya rasa keadilan kembali terkuak disini.  Semua merasa benar, merasa berhak untuk bersuara, bertindak bahkan membunuh.  Setelah korban berjatuhan, terluka bahkan meninggal, semua sembunyi, hening dan menghilang.  Semua seakan tak bernyali.  Saya ingat seorang penulis kolom di media umum setiap hari minggu, yang secara lebih jantan dari jantan mengatakan dirinya Banci, suka sesama, bahkan terang-terangan disetiap tulisannya secara jantan pula mengakui semua kelemahannya.  Dimata saya dia lah jantan daripada perusuh dan pembunuh yang terjadi akhir-akhir ini.  Dia lah secara kasat mata lebih menunjukan jiwa ksatria daripada pengecut yang mengatasnamakan organisasi massa, mengatasnakan Hamba Allah yang sifat dan kelakuannya tak lebih dari Anak Setan. 

Ketakutan yang telah terlanjur disebar, disemai di ladang subur masyarakat, saya jamin, akan mereka tuai dengan sangat besar.  Hingga lumbung-lumbung kepengecutannya tak akan muat untuk menampung letakutan yang mereka telah sebar sendiri.  Tangan-tangan kotor yang menjadi dalang dibalik semua kerusuhan ini, akan terkontaminasi dengan sendirinya oleh “bisa” yang mereka tuang ke mulut setiap anak-anak kami, hingga masanya amputasi akan menggeroti tenggorokan mereka.  Supah serapah yang mereka hamburkan dikala tangan dan kaki mereka menikam dan menendang “mangsa”, tentu sumpah serapah itu ber transformasi menjadi kutuk bagi diri mereka sendiri. Karena dari hukum fisika yang pernah aku dengar disaat masih berseragam biru putih hingga ke pakaian abu-abu, “Energi tidak akan sirna, melainkan hanya berubah bentuk”.

 Tuhan seakan diam, Tuhan seakan menjadi penonton setia mengamati setiap kejadian ini.  Bahkan terbersit pertanyaan konyol di benak ini : Tuhan,Engkau sedang tidak bercanda kan???…

Semoga damai besertamu wahai engkau yang mati atas nama Ideologi, kemiskinan, ketakutan, kebersahajaan dan kepatuhan terhadap sabda alam.

Mari Kita Bicara Pak..Bu…

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Om Swastiastu, Namo Budhaya, Shalom, Selamat siang, salam sejahtera, …

Masih terbenam dalam benakku ini suatu pertanyaan yang gaungnya belum berhenti hingga kini.  Apakah gerangan yang terjadi dengan negara ini ?…Semua serba bikin “kunang-kunang” seperti habis “kejedot” pintu papan jati yang super keras.  Semua terasa kacau dimana-mana.  Apakah negara-negara diluar sana sama mengalami “penyakit” ini??..atau memang hanya negaraku saja??..Dari pimpinan yang nota bene kaya, berduit dan terpandang…bermasalah.  Artis-artis nya…bermasalah.  Olah raga..sekarang sangat bermasalah!.  Untuk olah raga:  waktu aku masih bocah, Indonesia sangat disegani.  Semua masyarakat sangat antusias walau hanya nonton rame-rame di kantor kecamatan yang TV nya pun masih hitam putih saja, kalau mau berwarna ya tinggal kasih layar berwarna tempelan, Merah, kuning, biru, hijau dan ungu.  Tinggal “plug” maka berwarnalah TV itu….Tapi semangatnya yang tak terbeli, semangat rakyat akan kebersamaan dan empathy serta symphati yang sangat dalam akan nuansa itu.  Sepak bola sangat trengginas, badminton sangat ditunggu….sekarang??….semua berantakan…

Mari pak, Bu…mulailah kita mengalah, mulailah kita bicara…kalau hanya karena elemen hukum yang sebenarnya bisa di bicarakan karena hajat orang banyak..mengalah lah.  Kalau anda di naikkan karena PP, Kepres, Statuta atau apalah produk hukum lainnya..Lihatlah…banyak yang merindukan masa-masa gemilang itu kembali hadir.  Diamlah….Sapalah nurani bapak-ibu pimpinan sekalian….kami mempunyai mimpi yang sederhana sekali : menyanyikan lagi INDONESIA RAYA, dengan bangga, melihat putra putri terbaik berkalungkan medali emas, bendera merah-putih di”kerek” diarena.  Sederhana kan???….Janganlah dibuat rumit pak-Bu…Jangan!.   Merenunglah, apa yang sekarang sudah terjadi, cepatlah bergegas kejar semua ketertinggalan ini. 

Kami tak perlu lagi pahlwan!.  Pahlawan hanya tertulis dalam buku sejarah, kami tak mau jadi bagian sejarah!.  Diam, rapih dan tertata bagus di almari, rak museum yang hanya sesekali diseka debu yang hinggap di foto-foto dan kliping koran yang mengabadikan nama kami….Semua itu usang.  Biarlah kami jadi pejuang Instan!, yang hanya ada sekali dan tenggelam..dilupakan.  Namun saat kami berbuat, saat itulah Bangsa ini bermartabat.

Hentikan segala “cing-cong” keramat yang keluar dari mulut-mulut penuh dengan pamrih.  Mulailah berbuat untuk maslahat rakyat.  Jangan bersolgan : INDONESIA, TUMPAH DARAHKU, TANAH AIR KU, kalau kenyataanya.: INDONESIA TANAH TEMPAT DARAH TERTUMPAH!, TANAH SEWA DAN AIR BELI!!!.  Kami sangat ingin bersemayam kembali di rahim ibunda, kami nyaman disana.  Kami takut untuk menatap sinar matahari di bumi pertiwi.  Kami jadi pengecut , sepengecut pemimpin-pemimpin kami yang tak mempunyai mimpi.!!.  Jangan “Afghanistan” kan negara ini, Jangan “Arab” kan negara ini, Jangan “Amerika” kan negara ini,  Jangan “Jerman” kan negara ini,  Jangan “Agamakan” negara ini!!!…Biarlah Indonesia tetap menjadi Indonesia, menjadi Indonesia sesuai dengan nurani bangsa ini.  Menjadi Indonesia yang hakiki saat di Papua, Menjadi Indonesia di Aceh, Menjadi Indonesia saat di Bali, menjadi Indonesia saat di Nusantara,  menjadi Indonesia saat semua harga tak terbeli!!.  Jadilah Indoneisa dalam bathin dan laku masing-masing. 

Mulai was-was…

Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore , Selamat Malam Indonesiaku dan Indonesiamu

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Namo Budhaya, Shalom, Selamat siang, salam sejahtera, …

“Aku tak akan menulis isi hati ini di blog ku dimanapun medianya De!!”, ” Sebab apa yang aku risaukan, “nubuatanku” , harapanku dan jeritan orang2 disekitarku,  juga bathinku sendiri, telah aku sampaikan ditulisanku sebelumnya”.  Itulah sederet kalimat yang meluncur lebur dalam keengganan ku menulis pada blog yang aku sampaikan kepada adik ku.  Dia juga adalah “murid sang Langit” dan “ejawantah bumi” yang selalu setia dijalur kata-kata.  Entahlah, aku memang enggan menuliskan semua uneg-uneg ku yang biasanya hasil dari “potret” keadaan sekelilingku.  Nyatanya hari ini aku lebur dalam imajinasi, marah, “fawa’id” ku…aku menerobos masuk untuk mengetuk kembali benteng sastraku yang paling dalam dan masih berlumut yang belum lagi aku bisa bersihkan oleh tajamnya tuts-tuts notebook ku.

Saat membaca kejadian demi kejadian lewat media massa. Dari Politikus yang membangun “sarang” emas di tengah rakyat yang masih ber-cawat bahkan menggigil telanjang, Jalan-jalan orang “pilihan” rakyat atas nama “kemaslahatan” ke luar negeri, Pembangkangan Jaksa, 8000 orang yang enggan Institusinya di isi oleh selain dari mereka, Jalan yang roboh terbenam, jatuh terjerembab dalam kubangan 7 meter, mudik lebaran yang membawa korban setengah dari kemarin (Sumpah !! 50% persen MATI!), katanya ini prestasi…mati kok prestasi!, penusukan dan penganiayaan (bahasa ormas dan kepolisian :  ”bentrokan spontan”)atas saudara-saudara Kristen HKBP di Bekasi.  Aku menggigil melihat sosok benderaku sendiri.  Aku gemetar menggeletuk gigiku setiap kali aku mendengar tangis bayiku.  Aku di dunia mana saat ini , aku sendiri sudah tidak dapat memastikannya lagi.  Apakah aku “Fardun” (sendiri) atas realitas yang berterbangan di pelupuk mataku sendiri?….

Aku sudah menuliskan panjang lebar dalam setiap tulisanku, bahkan mengenai toleransi beragama yang memudar dan semu di antara anak-anak bangsa.  Beragama namun tak beriman.  Pemimpin menjadi layu dan tak lagi ber-”gada” di tangan kanan-nya.  Lidah santun tak lagi ada di setiap rongga mulut setiap insan.  Merasa besar dan merasa benar sudah menjadi berhala bagi setiap manusia, tidak hanya di negeri ku ini namun di negeri nun jauh disana.  Namun entahlah, pepatah lama masih saja menjadi rujukan cerita ku ini : “Selumbar dimata saudara mu kau lihat, Namun balok dimatamu tak kau lihat”.   Membunuh dengan tangan sendiri atau meminjam tangan orang lain, atas nama apapun adalah sama.  Membunuh. Maka tangan dan hati sudahlah dilumuri darah korban, ideologi korban, ketakutan korban, kenyamanan korban, Seketika MATI atas nama apapun.  Sebab  hanya Rabb, Al-Haqq , Sang Maha Dzat yang memiliki waktu untuk itu dan atas perkenanannya lah maka segala terjadi.  Termasuk semua kejadian yang melintas didepan mataku, Termasuk penusukan(HKBP) itu terjadi. Tak ada selembarpun daun jatuh ke muka bumi, tanpa sepengetahuan Nya, atas ijin Nya semua terjadi.

Indonesia ku dan Indonesiamu tak lagi satu bait dalam lagu Indonesia Raya saat ini. “Ku” dan “Mu” sudah merupakan pasangan rel kereta yang tak berujung.  Berjalan, melihat, mengantar, menopang dan menghancurkan namun tetaplah berdampingan. Ku dan Mu adalah sepasang sejoli yang tak lagi menjadi “KITA”.  Kuatnya “Ku” dan Sinisnya “Mu” sudah merupakan tulisan jaman dari alam raya ini di cipta hingga esok mataku tertutup.  Saudaraku “Ku” dan Saudaraku “Mu”, janganlah jadikan Indonesia kita menjadi bagian Ku dan Mu.  Tutuplah mata “Ku” dan “Mu” itu, mulailah peluk dan rayu “KITA”, agar Indonesia tak menjadi terbagi.  Sehingga pada saatnya kita tetap berjalan di Rel kebangsaan Indonesia KITA dan dapat mengantarkan Gerbong anak negeri ke tujuan.  Rel tetaplah harus berdampingan dalam segala perbedaanya, namun harus tetap rata dan simetris.  Perbedaan tak menjadi sumber patahnya rel di tengah karena syariat yang berbeda.

Saudara ku HKPB khususnya dan Umat Kristiani dengan segala denominasinya, yang adalah satu udara, satu rahim pertiwi, satu cita, engkau adalah saudaraku tidak lain dan tidak bukan.  Kami adalah musafir yang tak adalah kami mengakui bahkan tanah yang kami pijak adalah hak kami.  Semua adalah milik Nya sang Rabb, Maha Dzat dengan segala keterbatasan kami mengenal Asmaul Husna nya yang tak terukur.  Saudaraku Islam yang Muslim, hilangkan kanlah segala Nafs yang membelenggu mata nurani.  Tanggalkan bajumu yang putih, peci mu yang putih, sorbanmu yang mewangi dengan pakaian Iman dan Sunnah Rasul, baginda Nabi dengan segala “Zuhud” nya.  Sehingga Putih pakaian kita tak berbanding terbalik dengan Hitam jelaga nya hati kita. 

Mohon di terima maaf kami ya Bani Adam, saudara ku Nasrani khsusunya, Hindu, Budha, konghucu, kejawen, ahmadiyah, dan kalian yang tersakiti atas tindakan kami. Ampuni kami Ya Rabb, Yaa Al-Malik al-Mulki. Kami mohon ampunan karena kami masih jauh dari rahmatan lilallaminn…bahkan kami adalah pengkhianat dari keagungan Ar-rahim (Hadits Qudsy : ar-rahim syaqaqtu laha ama’an min ismi) .Mungkin pelacur lebih tinggi derajatnya dari pada kami Ya Rabb…Pelacur-pelacur selalu sadar akan kekotoran dan najis dan sadar bahwa mereka berlumuran dosa.  Namun kami yaa Rabb…mengkhianati Citra Illahi di hadapan sekalian alam ciptaan Mu, yaa Al-Haqq, al-Hakim,al-Hakam, al-’Adl, al-Hadi,al-Hasib, al-Waly, al-Karim….

Wahai pemimpin, jangan jadi kan kami “mata tombak” dan sembelihanmu.  sampaikan pada nurani kalian, sampaikan pada jelaga dan menghitamnya hati kalian, sampaikan pada mata ruhanimu yang “berkatarak” dan berdebu, sampaikan pada kasutmu yang tak pernah berjalan dalam ke-”Zuhud” an itu, sampaikan pada lisan mu yang lebih berat memanggul “amanah” kami….: “Bahwa Indonesia kita telah masuk dalam ba’da Isya”

 Qul al haqqa walau kana murran…..

Merah Putih itu Milik Kita!!

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat menjelang subuh, Shalom, salam sejahtera

Sepertinya bulan ini aku belum masukan postingan blog ku ke media tersayang ini.  Mesti ada tiap bulan, biar kelihatan sedikit penuh tiap bulannya  hehehe.  Jam dinding ruanganku sudah menunjukan pukul 2.15 pagi.  Rencananya kerjaan kantor yang segunung akan kutuntaskan malam ini.  “Boss, jangan di forsir, nanti boss tumbang kami gimana???”, seorang staff ku kasih sms pkl 01.00 tadi.  “Pak kalau capek mampir di kos ku ya pak??” yang lain memberikan tawaran padaku untuk istirahat ditempatnya jika aku mulai oleng.  Semuanya kujawab seragam…”Aku baik2 saja kok, easy…”.   Memang aku seperti kejar setoran, operasional divisi yang aku komandani mesti tuntas pekerjaanya, walaupun aku pasang badan juga di garda paling depan.  Semangat joeang 45′ , begitu kalau mengutip kata leluhur.

Bulan ini kita akan diingatkan pada satu hari dimana pada hari itu kita dibebaskan dari penindasan bangsa asing, , baik bathin maupun lahir,17 Agustus.  Namun sudah beberapa tahun, mungkin tiga dasawarsa malah, aku tidak merasakan gereget seperti masa kanak-kanakku dulu.  Lagu-lagu perjuangan hampir berkumandang diseluruh desaku, ditiap RW, di tiap RT, bahkan di tiap rumah.  Keroncong, mars perjuangan, himne, semua berkumandang diudara seperti milyaran kepak lebah berebut nektar bunga.  Bahkan aku kecil, sempat menangis jika mendengarkan lagu gugur bunga diputar oleh pak Sutrisna tetangga yang eks pejuang kemerdekaan.  Sangat menyentuh nurani.  Di petak sawah nan becek, kami sering main bola untuk merebut piala lurah, atau istilahnya kambing cup(hadiah utama seekor kambing), diiringi lagu2 perjuangan.  Semangat luarbiasa dan tanpa tawuran jika kalah.  Kenangan yang sangat Indah, bersyukur aku memilikinya, mungkin teman2 sebayaku kinipun pasti punya kisah yang sama denganku.

Tidak sama dengan yang aku rasa kini.  Pesta digedung2 mewah, hanya simbol2 dan selebrasi, orasi basi, lagu2 modern gamang makna yang diperdengarkan oleh2 band2 ngetop memoles rasa kebangsaan ini setiap tahunnya. Hampa.  Apakah ini adaptasi modern pada suatu makna atau memang sudah tidak bisa lagi rasa kebangsaan ini tumbuh pada semak belukar  yang berganti nama menjadi kemajuan???…Kalaupun ada hiburan rakyat seperti panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, semua hanya berjalan seperti kewajiban tanpa ada roh yang mengikat kita pada persatuan dan makna kemerdekaan itu sendiri.  Sekedar suka-suka dan pelepas stress.  Sampai dirumah mengerek bendera dan hanya untuk diturunkan kembali lalu dilipat tanpa rasa bersalah dan pernah bertanya “apa masih ada makna bendera itu didadaku?”

Egoisme yang sangat kental dan sikut2 an, juga kembalinya rasa kedaerahan yang sangat dibangga banggakan yang sebenarnya malah terpeleset jauh dari kalimat takzim  persatuan dan kesatuan. Forum Rakyat daerah anu, persatuan suku itu, ikatan keluarga besar marga anu.  Semua membuatku  gatal  mendengarnya bahkan ingin buang hajat dimuka mereka yang bangga dengan hanya menjadi sesempal dari bagian utuh bangsa ini. Bahkan penamaan daerah mereka menjadikan mereka pongah dan salah jalan, menjadi preman2 berpakaian adat di ibu kota ini.  Naif dan sangat geblek.  Mengapa tidak ada yang meluruskan ini?, malah pejabat sekaliber jendral pun memelihara ini untuk dijadikan tambang uang alias lumbung preman yang untuk selalu mendapatkan setoran di gang2, dijalan2 utama, atau sekedar menjaga tanah sengketa milik cukong!!.  Makin geblek!.

Marilah kita pulang rohku, istirahatlah dalam kenangan masa kecil itu.  Biarkan diluar sana, digedung mewah sana, di televisi berbayar yang mewah dan penuh dengan pembawa acara yang mampu nyerocos seperti kutilang tanpa rem dimulutnya, juga baju baju mereka berwarna dan bermotifkan dwi tungal sakti, merah putih,  bahkan hingga celana dalam mereka tersembul didepan tv anda berwarna sama dengan tema, mereka hanya dibayar untuk sesaat mengatakan “MERDEKA”.  Tapi mereka tidak bisa dan memang tidak pernah bisa merasakan orgasme atas kenangan terindah yang pernah tertulis dalam-dalam didada untuk sekedar merasakan kebenaran dari lagu rayuan pulau kelapa.  Seakan akan ikut Merasakan angin  berhembus membelai lembut dimuka saat mendengar lagu itu…Aku ingin kembali rasanya disaat itu, mendengar lagu perjuangan dengan memakan tahu goreng dengan cabe rawit pedas, makan singkong bakar saat nonton layar tancap di penghujung 17 an, atau mendengar takzim kakekku bercerita saat berjuang berhadapan dada dengan penjajah.  Hmmmm…aku kangen itu.

Kembalilah kita pulang pada suatu kesatuan cita, kembalilah pada rumah yang dulu hangat menerima kita, jangan biarkan debu tebal kesombongan  memendam rasa kebersamaan sebagai anak bangsa.  Peluklah merah putih itu dengan segenap jiwa, dengan sepenuh tenaga, jangan biarkan bumi pertiwi dipecah belah karena bangga dengan hegemoni agama, suku…Pulanglah kerumah yang lama kita tidak lagi tempati, pulanglahh.  Dengarlah penyeru diatas bukit harapan, Dia memanggil kita pulang pada tanah yang dulu diperjuangkan dengan danau air mata.  Pulanglah kepelukan garuda yang tegar mencengkram, membumbung tinggi perkasa, meletakan sayapnya seluas bumi khatulistiwa.  Biarkan garuda-garuda itu berkembang biak dengan cepat disetiap sarang keberagaman berbangsa.  Dan akan muncul garuda garuda kecil yang siap menjaga keutuhan dari sabang hingga merauke.

Yang kangen dengan kebersahajaan kata MERDEKA!!!

Doncorleone, 03/08/2009

Negara Itu bernama “Akal Sehat Yang Terlupakan”……

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat Pagi, Shalom, salam sejahtera

Pagi ini terduduk ku di kursi kulit “berbinar” yang semalaman tadi ku “tikam” dia berkali kali karena kejenuhan yang amat teramat sangat.  Meeting management yang marathon dgn meeting staff  dan meeting lainnya kemarin sore membuatku geram dan membangkitkan “selera” marah yang sudah tak tertahankan.  Ditambah lagi “FacebookAccident” yang kualami.  Naif, konyol dan super “Krezy” yang baru kualami.  Rumahku disatroni suami yang berang karena “CandaCintaMasalalu.com” yang aku sampaikan di jejaring pergaulan yang memiliki rakyat berjuta-juta.  Tak disangka proses “satron” ini lebih cepat dari yang aku tahu. Selama ini yang aku tahu hanya mencret lah yang mengalahkan segalanya mengenai hal Kecepatan dan percepatan.  Not good feeling seharian aku alami karena ulahku ini.  Umpatan dan SMS yang dilayangkan sang suami yang marah ini, sebenarnya membuat ku geli.  Kapasitas kata dan diksi yang benar-benar sembrono membakar niatku untuk “mempetieskan.com” masalah ini.  Toh ini hanya masalah luka cemburu, semua pasti sama jika mengalaminya.  Juga yang pasti adalah itu tetap tidak merubah “perasaan” yang pernah ada dan nyangkut dalam sanubariku.  Dia tahu itu. Halllaaahhh……

“Ini pasti Malaysia punya kerjaan.  Sialan biadab, pengecut, semprul nya mbah semprul!!”.  Ocehan keluar begitu deras dari Koh Acing penjual bakpao keliling komplek yang selalu mampir memberikan 1 atau 2 bakpaonya pada anakku Freya.  “Kok Malaysia koh??..” tanya ku bingung.  “ya iyalah oom, cuma negara semprul itu yang  gak doyan lihat kemajuan dan kemakmuran kita”.  Pembicaraan ngelindur ini respon dari kebiadaban pemboman yang terjadi di salah satu Hotel Mewah yang rencananya bahkan akan ditempati tim sepak bola terbaik di seantero dunia. Manchester United.  Hal ini pasti sangat dipahami benar oleh “manusia septiktank” yang mempersiapkan “pesta” nya sedemikian akurat.  Kedatangan MU tentu nya akan membawa suatu ..bukan sesuatu…tapi ribuan lensa kamera bahkan jutaan, juga milyaran manusia pecinta olahraga satu ini ke INDONESIA.  Dalam pandangan departemennya pak jero Wacik, tentu ini adalah kesempatan mengenalkan INDONESIA lebih akrab lagi pada telinga2 “Bule” kaya yang doyan kejar-kejaran kulit bundar itu. lah gaji mereka seminggu bisa sampai 3 milyar. Pendapatan perusahaan besar di negara ini saja belum tentu bisa seperti itu.  Icon mereka yang menggunakan baju batik saja sudah terpampang jauh-jauh hari di Billboard besar dan megah.   Dari sisi departemennya Adhyaksa Dault tentu ini sangat membanggakan jika tim Internasional berhadapan dengan tim papan atas. Gak masalah kalah menang, walaupun 230 juta penduduk indonesia jika diadakan “quick Count” untuk game ini 100 persen akan memilih MU menang.  “24-0 oom”, jawaban singkat mang Usep satpam komplek yang memprediksi pertandingan itu jika tergelar.  ternyata tim Nasional kita diluar dugaan mengalahkan MU dengan telak, menang WO. 3-0 point untuk tim nasional. 

Terlepas dari semua analisa semprul yang bergulir diantero jagad informasi seperti ini semua terkait karena pemilu, karena ketidakpuasan Capres kalah, karena ideologi si pembuat “pesta” Bom atau apapun.  Ada hal yang sangat miris harus dikatakan : Intelijen Kita masih Katro, super Katro bahkan.  “Pesta” sedemikian megah dan besar sulit menemukan “EO” nya dan “Pengantinnya”.  hanya memilah-milah serpihan daging yang menempel didinding mobil atau mencari kepala yang lepas dan mengkaitkanya dengan segala kejadian yang udah lewat.  Bahkan ada Capres yang langsung “tancap gas” dengan menunjukan kata yang berasosiasi dengan kejahatan yang dilakukan oleh Capres lain dihari yang lalu.  Sebuah nama muncul dari petikan analisa tim keamanan negara, “N”.  Inisial ini mengguratkan jalinan khusus si empunya nama dengannegara tetangga kita.  Dari dulu hanya nama-nama pendatang itu saja yang berkeliaran di “morning party” kemarin.  Mungkin analisa tukang bakpao langganan anakku itu benar.  hanya negara tetangga ini yang “berkontribusi” sangat besar bagi keterpurukan negara ini.  “Ganyang malaysia!!” puluhan orang kulihat berbaris memakai seragam dan ikat kepala bendera nasional dipinggiran jalan protokol ibukota.  Dari mana munculnya nama negara itu menjadi kambing hitam “morning party” ini?.  Tidak pernah jelas asal muasalnya.  Entah karena mungkin sentimen ratusan bahkan ribuan TKI yangd dideprotasi atau karena persamaan nasib dirundung malang seperti yang dialami bintang baru didunia sinetron, Manohara.  entahlah.  Mengapa rasa cinta itu tumbuh mesti di trigger pesta “Morning Has Broken” versi melayu ini???…  Mengapa tim-tim keamanan baru bergerak jika sudah “disundut” Mercon mematikan dulu, semua latah-latahan menyajikan pemandangan “reverse” dari keadaan semula.  Satpam-satpam Mall mulai kembali menyajikan peran “sinetron” satu episode, berlaku “galak” dan sistemik terhadap pengunjung.  Intel-intel berseragam batik dan bergaya tukang ojek memenuhi pelataran tempat-tempat strategis, namun intel melayu tetaplah intel melayu.  Gagang dari “Sibengkok” tetap tersembul diatas celana pendeknya itu.  Pistol S&W sebagai senjata standar “nongol” diantara belahan pantat intel-intel melayu ini.  Kalau aku tukang kacang atau pedagang kaki lima tentu lari kabur jika trantib datang, apalagi BOMBER yang jelas-jelas “mematikan” dan memiliki jiwa pengecut akan kabur dengan style para intel-intel ini. Aku intel loh, lihat beceng ku ini.

Akal sehat sudah lama sudah tidak tersaji dalam menu makanan negara ini.  Menu “kamuflase fla cah kangkung pengecut” mendominasi sajian makan pagi, makan siang dan makan malam rakyat ini.  1×24 jam, 7×24 jam menu selalu terhidang dengan cemilan “silat lidah saus pamer”.  Koki-koki negara ini membuat daftar menu yang sama setiap kali situasi berubah dan menuntut perubahan yang seharusnya sudah di prediksi, “Kambinghitam guling cah jamur kurap” selalu ditempatkan di urutan nomor satu pada setiap acara seremonial kenegaraan.  “Yah sudahlah pak, jangan jadi marah..belum tentu seperti apa yang bapak pikirkan..” jawabku kalem menanggapi sewotnya seorang Pamsus kereta langganku tiap pagi yang ngedumel, bete dan salting karena seorang cewek bohay melenggak lenggok depan kami.  harum tubuhnya meruntuhkan “ukuran” celana kami berdua.   Hmmm….Biarlah langit yang akan menghukum “bocah-bocah” tengil yang sudah tua dan doyan main-main dengan nyawa orang lain…..

  Posted on on Juli 18th, 2009 in Apa saja   | 2 Comments »

Selamat Jalan MJ….

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat siang, Shalom, salam sejahtera

Baru seminggu ini aku sadar, ada seorang “legenda” pop. Penyanyi, aktor, Ayah, Teman, Saudara(yang memang saudaranya ya :))) bertalenta tinggi telah tiada.  Jadi, 2 minggu kemarin aku ngapain aja ya??..sibuk apa yah???..sampai berita sebegini besar aku ga tau…Ampun deh ah.  Aku memang dari kecil gak pernah punya idola khusus.  Sekalinya ada, dia adalah SUPERMAN(clark kent) yang gak mungkin bisa aku tiru hehehehe…Aku benar-benar baru tahu ada kejadian ini saat aku pulang kerja, malam, naik taksi langgananku.  Kok ada yang aneh kali ini.  Saat paginya, aku cari informasi mengenai “kepergian” abang Jacko ini di Internet. Via detik.com aku cari, tapi yang ketemui malah lebih aneh lagi.  Banyak umpatan dan hujatan dialamatkan ke entertainer dalam negeri sendiri.  Aku terusik untuk “mengklik” header dari artikel itu.  Ada rasa geli dan ada rasa nelongso aku membacanya.   Bayangkan, hanya karena mengkomentari kematian Jacko ini, Dorce Gamalama ini, dari hampir 300 pengirim sms/email, 99,9 persen menghujat beliau.!!!

Komentar Dorce memang tidak ada yang perlu di besar-besarkan kalau kita melihatnya dengan jernih. Hanya “Ngapain sedih sih MJ meninggal, kalau Ulama meninggal baru kita harus sedih!!”.  Simpel kan??..tapi respon nya, bukannn mainnn..RRRuaaaaarrr Biiinnnaaasssaaa…. Memang  fans mana yang mau tokoh idolanya di “semprul” kan(pinjam gaya Bhayu my Bro hehe).  Kalau kelas-kelasan, maka si Dorce ini ya kalah kelas lah dibanding MJ.  Tapi nurani dan militansi idola itu ga ada batasannya. Mungkin Dorce ingin kelihatan “agamis” dengan menyandingkan kalimat-kalimat retorikanya, sementara secara harafiah fans MJ membacanya bulat-bulat sebagai “penolakan” keberadaan sang legenda, bahkan atas kematiannya.  Memang Dorce atau selebrity kita masih harus arif merespon segala kejadian. Baiknya, TELAT BICARA CEPAT MIKIR kali ya…

Dan yang lebih “aya-aya wae” adalah banyak media, surat kabar, infotainment gosip, bahkan sekelas acara berita yang “agak pinteran..dikit ”, ikut-ikutan membuat ramai jagad.  Dengan “tebak-tebakan” agama sang legenda ini.  “Akhirnya dia menjadi mualaf. Alhamdullilah”.  “semoga dia dijamin di surgaNya atas amal ibadah dan Nikmat agama Allah yang sekarang dia peluk” bang Rohim penjual toko kelontong dekat rumah ikut-ikutan komentar.  Bahkan Headline dari surat kabar kota menuliskan dengan besar besar “MJ MENINGGAL DI KAFAN KAN”….Ada yang salah???…sama sekali tidak ada yang salah.  Sumpah mampus ga ada apa-apanya.  Ini lah fakta bangsa yang ikut ber-toleransi, empathy, bahkan sinis didasarkan oleh hal hal yang sangat primordial, ethnical, sukuisme bahkan Agamisteatrical(ini ungkapan tercipta sendiri barusan).  Bahkan sampai detik kematian MJ, istriku, yang menemaniku bertahun tahun menjadi teman “kasur”, teman “sumur” masih punya pertanyaan begini : “MJ meninggal agamanya apa ya pa??..Islam kah??..sebab kakaknya udah ada yang Islam tuh, Jermaine yang ubah nama jadi Muhammad Abdul Aziz.  Atau dia masih kristen yah??..sebab dia masih di petikan(dikubur pakai peti dan pakai Jas setelan lengkap), atau dia masuk Hindu ya karena guru spiritualnya kan Chopra dari India??…Satu lagi Pa, MJ itu meninggal sebagai orang kulit hitam atau kulit putih ya pa???”  Aku bahkan tidak mengerti pikiran orang yang sangat sangat dekat padaku ini.

Menjadi pertanyaan lepas buat saya, apakah jika bukan se-agama maka “dinafikan” lah kematian seseorang???, kalau bukan satu suku, maka nonsen keberadaannya???, kalau bukan satu bangsa maka Zonder ada iba untuknya???…Sementara Tuhan YME yang dikenal sebagai ALLAH, Alloh, Yehova, God, Mesias, Tien dan segala sebutan Agung bagi Nya di setiap lidah di kolong bumi ini,baik itu kristen, budha, islam atau agama apapun mempunyai “garis politik” masing-masing.  Kita tak akan menemukan ujung apalagi awalnya, karena DIA adalah Alfa dan Omega, yang Pertama Utama dan Terakhir dari semua zat!.  Maka, apakah salah jika kita katakan UMAT MANUSIA adalah suatu bentukan yang sama???..baik dia hitam, putih, putih kepucat-pucatan, kuning, ganteng, jelek ancur, atau tonggos sekalipun mereka adalah suatu “Buah Tangan” tangan-tangan “Untouchable”, “Invisible”, Almighty, Super Perfect!!!!

Saat kematian yang penuh misteri, bahkan seorang pun tidak menduga bahwa kematian tidak punya alarm yang tepat untuk mengingatkan “pengguna” nafas ini, setidaknya itu ukuran bagi badan fana ini.  Kematian seseorang biarkanlah kembali pada khitahnya.  Mau dia meninggal dalam laknat penuh dosa, mau dia meninggal dengan memeluk agama terakhir yang masih misteri atau meninggal dengan sejuta bunga dipusaranya, hanya LANGIT yang tahu.  Sebab kematian itu sendiri juga sudah jadi misteri, masih misteri dan seterusnya misteri.  Ada yang sederhana dari kematian, bahkan aku sudah tiga kali mengalaminya(bukan kematiannya, karena aku belum mati, tapi “ditinggal” kan). Yang pertama, anakku sendiri, kedua adikku sendiri, ketiga Ayahku sendiri.  Ada sebagian bahkan lebih yang terbawa dalam situasi itu. Dibawa oleh kenangan yang terhisap kedalam alam kematian itu sendiri.  Kesedihan, luka yang dalam saat ditinggalkan.  Aku mengerti perasaan itu.  Sesuatu yang sederhana itu adalah : Bahwa kita akan sama dengan mereka.  Menjalani siklus fana hingga detik akhir.  Pujangga mengatakan kematian adalah “Tidur yang panjang dalam keheningan”. Aku mengatakan “Bukti ke-stabilan atas siklus kefanaan” yang telah menempatkan “alarm” pada tenggorokan kita masing2.

MJ, saat ku kecil kau menemaniku dengan “ABC”, lalu selalu kamu “I’LL BE THERE”, bahkan saat aku dewasa kau “ROCK WITH YOU”, bahkan saat “BILLIE JEAN” ada, kau membuatku “BEAT IT”  sehingga aku harus “DON’T STOP TILL GET ENOUGH”.  “THRILLER” mu membuat ku berpacu untik “GIVE IN TO ME”.  Kamu jelas membuatku “THE WAY YOU MAKE ME FEEL”, engkau memang sungguh hebat MJ tapi kau tetaplah “HUMAN NATURE”. Saat memulai hari, aku “WANNA BE STARTIN’ SOEMTHIN’” , aku ga peduli siapa dirimu “BLACK OR WHITE” MJ. Saat aku “SCREAM” “IN THE CLOSET”, aku selalu berharap bahwa engkau “LEAVE ME ALONE”  sebab itu bau MJ. Tapi aku “I CAN’T HELP IT” kalau kau memaksa. Yah sudahlah MJ, “I’LL REMEMBER THE TIME” untuk “P.Y.T”.  Selamat jalan MJ.

 Yang berbelasungkawa atas nama kefanaan dan atas nama udara sama yang dihisap,….walau tak kenal.

DonCorleone

Sisi Gelap dan terangku…

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat malam, Shalom, salam sejahtera

Sudah banyak artikel yang aku posting dengan bernuansa “hitam”, abu-abu…bahkan gelap dan alpa.  Seakan akan aku hanya melihat sisi hidup hanya bagian kelamnya saja.  “Bang Don!, kok ya “memotret” hidup dari pencahayaan yang blur melulu, sekali kali dong pakai “Flash” biar keliatan mas Don yang sumringah hehehe”…Banyak SMS yang berulang ulang dan bernada sama dikirim oleh pembaca lokal yang jujur dan apa adanya…Hahahahaha..aku terbahak bahak membacanya..Benar, benar sekali Teman-teman ini.  Semua memang harus berwarna….sayangnya aku terlalu banyak “ngumpet” dan memotret diam2 dari “Blur” nya malam kehidupan…Baiklah kalau begitu…ada benang merah yang menyatukan aku dan sisi lain dari hidupku…Tenang yah, kalian pasti kaget kalau “memotret” aku dari sisi yang lain, akan tampak sisi yang di luar nalar..setidaknya begitu buatku sendiri..heheheh…

Ini aku tulis 2 tahun yang lalu, saat setiap anak muda merasakan getaran-getaran kasmaran di hari istimewa mereka ini.  Ga ada masalah buatku untuk “merayakan” kecil-kecilan dengan keluarga yang hakiki dan syah..Ga ada fatwa haram lah untuk ku..tulus dan jujur…Biarlah hati nurani terdalam yang menilai, pada hari itu, hari yang sama Tuhan bentuk untuk kita rayakan…”perayaan” hati ini tertuang dalam sepenggal doa dalam surat :

SURAT KECIL

UNTUK ISTRI DAN ANAK-ANAKU

 

 

Sering kali hati ini ingin mengungkapkan segala kejujuran yang ada, tapi sering juga merasa masih gagap untuk mengungkapkannya.

 

Istriku, untuk kau ketahui, tidaklah cukup rasanya air mata dan doa ini dan segala isi bumi untuk kupersembahkan padamu…

 

Setiap malam datang, tanpa kau ketahui, aku selalu menatapmu dalam tidur.  Begitu lembut, cantik…bahkan sejuta pelangi takkan bisa mengalahkan itu semua……

 

Dan saat malam tiba…aku Selalu menengadah, memohon pada Tuhan, untuk segala kebahagiaanmu.

 

Istriku, engkau telah membuat hidupku menjadi lengkap.  Membuat segalanya terlihat Indah….walaupun seringkali kepedihan itu datangnya dariku. Maafkan aku…..

 

Setiap keping kata yang keluar dari mulutmu, indah untuk ku.  Segala kata manis yang Kau ucapkan, seperti ayat-ayat yang keluar dari para nabi..menyejukan..

 

Istriku, jujurku akui, aku belumlah cukup untuk menyenangkanmu, membahagiakanmu…

 

Bahkan sekuntum mawar, indahnya warna kupu-kupu, tenangnya danau sunyi dan beningnya embun pun sulit untuk menjadi wakil isi hati ini untuk mengatakan betapa engkau sempurnakan hidup ini.

 

Istriku, ketahuilah, denganmu, dimatamu aku menemukan arti yang sesungguhnya Hidup dan cinta ini.  Aku mencintaimu tanpa syarat, seperti halnya matahari dan rembulan yang selalu ada disetiap hari….

 

Ovell & Jasmine, anakku…tak henti hentinya tangan dan wajah papa menengadah keharibaan Yang maha Kuasa

….menangis…memohon…berdoa…memintakan kebahagiaanmu

 

Saat kalian tertawa, itulah saat pintu surga diperlihatkan diwajah papa…

Saat kalian melucu atau terlelap dalam pelukan papa….Tuhan telah menunjukan isi surga yang sesungguhnya….

 

Anakku Ovell & Jasmine, maafkan papa, dalam kemarahan kata dan sikap…bukanlah untuk membakar dendam dan amarahmu…

Saat papa marah, sesungguhnya hati papa terluka karena itu….

 

Anak-anaku….Kadang kali kepedihan itu harus singgah dalam kepekatan hidup ini…seringkali membuatmu tak bisa lagi menangis….

Saat itu, janganlah engkau lupakan papa…ingatlah anak-anakku…

Papa mencintaimu lebih dari engkau mencintai papa….

 

Anak-anakku, suatu hari engkau akan pergi meninggalkan kami orang tuamu………

Memenuhi takdir dalam hidupmu…..

Mencari kearifan bumi………….dan saat kau rindukan kami, maka…

Ikutilah jejakmu saat engkau pergi dari rumah….temuilah papa dengan

Tangan membentang………..merindukan hadirmu.

 

Ovell & Jasmine anakku, jika engkau mengerti…papa ingin sekali menukar segala penderitaanmu, tangisanmu, sakitmu dengan jiwa papa…nyawa papa ini…….

 

Ovell & Jasmine anakku, tak ada yang lebih bernilai selain memiliki engkau didalam hidup ini. Papa seperti menggengam dua berlian yang tak ternilai dalam hidup ini….

 

Walau sering kali nanti, dalam hidupmu engkau akan menemukan banyak penderitaan..

 

Bersabarlah anakku….

 

Ovell & Jasmine anakku, saat engkau melupakan kami orang tuamu…juga Tuhanmu…..

Saat engkau berjalan dalam lembah kekelaman…

 

Percayalah, kedua tangan papa akan selalu terbuka membentang untuk memelukmu…dan menantimu untuk…

 

Pulang kembali…….

 

 

Happy Valentine Day for you all….

 

Papa.

 

 

 

 

Api Dalam Sekam…Itikad berbangsa…

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat pagi, Shalom, salam sejahtera

Sore yang cerah saat Taxi mengantarku kembali dari “perjuangan” semalam di Surabaya.  Yah, hari itu, tanggal 25 juni lalu aku diminta perusahaanku untuk “SOLO RUN” bergabung diacara suatu perusahaan besar BUMN, bahkan presentasi didepan seorang pejabat tinggi negara.  Perjuangan berhasil…sukses tanpa tedeng aling aling. Getaran-getaran “ga Pede” sudah terlewati, satu tepukan di bahu dari pejabat/menteri itu menghantarku untuk bungah sepanjang hari.  SMS bertubi-tubi ku kirimkan ke ponsel para direksi di ktr, Narsis, Carmuk, girang, entahlah apa namanya.  CAIYOOO…

Sepanjang perjalanan ini, aku ditemani supir taxi yang kental jawanya, namun kental pula aroma bataknya. Nama yang unik di sandang di Kartu ID taxinya, Temon asih Nainggolan.  “Teman” seperjalananku ini, memang satu-satunya orang yang setia menemaniku semalaman. Dari Check-in ke Hotel, antar ke tempat acara, jemput dan putar-putar kota surabaya di waktu malam.  Sore ini aku minta dia santai bawa aku menuju bandara…pelan namun bermakna..itu yang akuinginkan diwaktu singkatku di Surabaya ini.  “Bang lihat itu”, tiba-tiba dia mencolek aku dan menunjukan sesuatu di pinggiran jalan tol yang kami lalui.  Beragam bangunan keagamaan berderet-deret dia area yang sama.  “Hmm hebat kali ya bang, sudah lama bangunan itu bang”, tanya ku kagum.  “Sudah lama bang, tapi lebih lama untuk gereja yang disampingnya itu”, jawabnya. “Lohh kok bisa???” tanyaku aneh.  “Ya bang, saat permulaan dibangun, gereja itu duluan, namun berikutnya..malah mereka sulit mendaapat ijin dari yang berkuasa disini…akhirnya jadi tapi lama”….aku menangkap suatu hal yang sensitif disini…”Bang, di Jakarta membangun gereja atau pure dan kelenteng,gampang ya bang.  Ga perlu ijin macam-macamkan bang??..” .   Aku menghela nafas panjang, aku tidak mengerti jawaban yang harus ku katakan.  Aku hanya menggeleng lemah dan tersenyum.  Mudah2 an itu memberi arti yang dalam buat dia dan aku tak perlu berargumentasi “ga penting” disini.

Dalam setiap paragraf pertama di setiap tulisanku pada blog ini, selalu kuucapkan berbagai salam “khas” keagamaan yang ada di Indonesia ini.  Aku begitu menikmati itu.  Bangga menjadi orang Indonesia dan bangga menjadi orang dengan label “agama lainnya”, seperti ucapan para pengamen atau orang yang minta2 sumbangan di setiap bus kota, perempatan jalan atau gedung2 megah dalam seremonial buncah merekah dalam salam perjumpaan mereka.  Tidak salah apa yang diucapkan seorang supir Taxi itu, dia merasakan sendiri “keanehan” hidup di negara besar dalam jumlah namun kecil dalam berpengertian.  Toleransi yang sering didengung-dengungkan hanya bagian dari “Flier” atau “pamflet” bingkai bernegara semu.  Mereka bungkam karena sedikit/Minor atau memang terpinggirkan dengan berbagai label.  jadi sebuah aksesori pemanis “leher” bernegara yang kurus dan kerontang.  Tidak terbayangkan, betapa sulitnya mengurus sebuah sarana beribadah hampir disemua tempat di Indonesia ini.  Harus minta tanda tangan warga lah, harus persetujuan RT/RW lah, harus minta persetujuan Camat lah, dan lain lain , dan sebagainya, dan dan dan dan……Kalau tidak, ya siap-siap saja untuk dilempari batu atau serbuan “pasukan” bayaran yang entah berantah.

Dalam tulisanku ini, bukan hendak menghakimi atau mengeluh terhadap kebebasan yang “diperkosa” oleh kata Majority atau Minority Community, tetapi lebih banyak menyikapi mengapa hal ini bisa terjadi.  Konflik berkepanjangan yang tidak tuntas dan komitmen setiap pemuka agam dan masyarakat yang “buta” yang terus dibutakan dengan statment-statment pemimpinya, yang cenderung “radikal” dan sempit hati, membuat ini terus berlanjut dan menjadi bom waktu dikemudian hari.  Jika ada pemimpin yang menengahi, itu pun ada “Imbalan” terhadap hal yang seharusnya dikerjakan dengan hati, beritikad demi keragamaan dan kesejahteraan, kenyaman dan kebebasan secara individual dan kelompok raib entah kemana. kalau tidak percaya lihat saja pernyataan seorang kandidat yang bangga dengan andilnya dalam mendamaikan Aceh, Poso dan lain-lain.  Kalau dia berjiwa besar dan tidak kerdil seperti badanya itu, maka pernyataan itu tak akan terlontar.  Dalam analisa saya, itu semua demi kebangsaan yang lebih besar dari aspek pribadi yang berhasil!!.  Membiarkan “kemenangan” itu lebih besar dari nama besar pribadi, merupakan sifat yang langka di bumi pertiwi ini.

Syukurlah, semua ini belum menjadi bom yang siap meledak dan meledek dalam hitungan 3 detik..Kesadaran yang harusnya menjadi hak hakiki para manusia, musafir kelana di muka bumi ini, raib dan menjadi “bola” yang ditendang kesana kemari sesuai irama politik dan teriakan massa yang mampu mengubah statment hukum positif bahkan.  bahkan penyerangan terhadap sesama “jenis” agama namun “nyerempet” beda ideologi hak, itupun diselesaikan dengan bakar membakar rumah ibadah.  Masih saja coreng moreng negeri ini ada, untuk sekian kalinya kandidat-kandidat minta di contreng, bukan di coblos di “Muka”nya (kapan lagi bisa corat coret dimuka pejabat, kecuali dipotonya,dipemilu ini hehehe).  Masih berharap keterbukaan dan dialog2 yang baik, membangun dan tanpa kecurigaan yang berlebihan dalam berkontribusi di “jagad” bumi Indonesia ini.  Satu untuk semua dan semua untuk satu.  Tak ada lagi ada asap yang mengepul dari terbakarnya sekam secara diam-diam.  Tidak ada lagi siapa MAYORITAS dan siapa MINORITAS, ukurannya dikembalikan pada “real measurement” untuk kata-kata itu. Semoga.

Salam dalam kesatuan

Doncorleone

“Madesu”..Masa Depan Suram!!

Assalamualaikum, Sabhe satta bhavantu sakhitatta, Selamat pagi, Shalom, salam sejahtera

KRL pagi ini, walaupun naik yang express tetap saja terasa lambat dibandingkan cepatnya hayalanku dan ambisi ku dalam merengkuh kehidupan yang lebih baik.  Terbayang senyum bayiku saat aku cium pagi ini, juga cembetut wajah kakak2 nya saat mereka iri melihat itu.  Terbayang juga betapa kerasnya kehidupan yang mereka akan tempuh nanti saat mereka di “sapih” dalam naungan dan hangatnya keluarga.  Ketakutan ku malah menjadi-jadi dan lebih cepat dari pesawat concorde yang terkenal itu.  Ada yang bilang “hidup jalani saja”. Kenyataanya memang kita sedang menjalani itu mau tidak mau. Dan susah. Dan berat.  Aku mungkin masih jauh lebih beruntung dari banyak hal dibandingkan banyak orang yang tidak beruntung, yang setiap pagi aku masih lihat mereka tertidur nyenyak diperon2 stasiun. Disudut sudut kotak sampah. Jauh diatas atap stasiun yang berongga. Mereka hadir disitu untuk merajut mimpi2 nereka yang untuk saat itu saja.  Mereka lebih kelihatan damai dibandingkan seorang kepala negara manapun yang tidur di pavilion mewahnya.  Mereka terlihat keras namun tetap jujur pada wajah yang sama, kesusahan!.

Renunganku terusik oleh ribut2 penumpang KRL Depok express ini, yang masih saja seperti bocah kehilangan mainan saat kursi mereka ditempati orang lain. Kejadian yangtidak penting menurutku. Seorang ibu berpakaian parlente,kantoran, terlihat smart, namun kelihatan aslinya dan “bodoh” yang dipamerkan jadi mengoyak kesan pertama ku itu.  Dia menghardik seorang penumpang, ibu-ibu juga, hanya karena ibu itu duduk duluan dan hanya memiliki tiket tidak memilik kartu berlangganan yang bercap nomor kursi . Ibu yang dihardik ini mungkin baru pertama kali atau memang tidak mengerti tabiat, kebiasaan penumpang Express ini. Mereka merasa pongah dengan memegang selembar KTB.  Dan mereka bergerombol, arisan, bergunjing keras2, dari omongan seputar dapur hingga “dapur” yang lain.  Aku pernah mengalami itu, maka jauh2 aku sudah “aware” terhadap itu untuk tetap berdiri sampai tujuan. No Mercy. 

Bau harum semerbak saat aku berebut keluar dari pintu KRL. Berebut tangga turun, menapaki dengan lari2 kecil. Tiap hari jalur yang sama. Dibawah sana, ramai orang berjaket, bersendal jepit, berteriak menawarkan jasa ojek, bajaj dan bemonya.  “sstt..jangan ibu itu! pelit dia mah kalo ngasih uang tips. boro2 buat anak sekolah, buat makan aja ga cukup”, seorang pengojek mengingatkan teman nya untuk tidak membawa ibu2 yang tadi kulihat menghardik penumpang lain saat di KRL.  “kita ini madesu, masa depan suram. Jangan lagi kejadian sama menimpa anak kita”..sepenggal kalimat dari tukang bajaj yang asik dan sedikit bijak menimpali obrolan paginya dengan sesama “pejuang” jalanan, sambil sesekali menghisap dalam2 rokok kreteknya.  “jangan abang ini, dia mah cuma transit aja, dia naik busway…pagi bang don!”..sapaan keras yang memekan telingaku saat aku melintas, menyeruak diantara mereka. Hanya kubalas dengan senyuman dan lambaian tangan.

sendal jepit biruku yang kupakai sangat tidak menyulitkanku saat bermanuver menjejakan kaki di busway menuju kantor.  Kembali menyeruak “wangi” sampah yang ditengah2 nya duduk seorang pengemis yang memilah satu demi satu gelas plastik sisa minuman ringan dan botol bekas.  Terlihat “khusyu” menaglahkan tebaran lalat yang berebut nempel di wajahnya yang hitam dan dagu yang kelam. Matanya nanar saat petugas trantib melintas singkat didekatnya. Wajah itu kembali kuyu saat melihat kantong yang dia bawa masih terlihat kosong.  Kegalauan pagi yang terjadi sepersekian meter jakarta cukup mewakili banyak nama, banyak golongan, banyak cerita dimuka bumi ini.  Kadang aku masih menjadi “bodoh” saat harus mendeskripsikan kata-kata acuan “Rebut Masa Depan” di reklame Bank ternama besar yang terpampang pongah di pinggir jalan.  Masa depan siapa yang harus direbut ???..apa itu masa depan??…apa setiap manusia INDONESIA ini punya hak yang sama???…mengapa si bodoh, si miskin, si penghardik , si wangi, si cantik berbikini, semua menyebar rata dalam kehidupan yang sama namun “berjenjang” untuk nasib.  hmmm biarkan sang “Masa Depan” menentukan pengikutnya sendiri.  Biar saja calon pemimpin “bengak-bengok” sampai gondongan mendeskripsikan masa depan versi mereka di corong-corong TV, radio, flier, pamflet dan lain2, mencoba memutar kepingan rupiah untuk sebuah bangku kosong “pemimpin” dengan otak yang kosong dan menawarkan janji kosong dengan konsep yang juga kosong, skor akhir “KOSONG KOSONG”. Kosong untuk rakyat, kosong untuk isi kepala pemimpin. 

Mengharu biru atas kekosongan..MADESU

Doncorleone